Kecemasan Dental

0 Komentar
ANALISIS PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN ANAK DAN REMAJA TERHADAP KUNJUNGAN KE DOKTER GIGI

 

1.1 Latar Belakang
            Dalam perawatan gigi dan mulut sedikitnya terdapat empat reaksi, yaitu: kecemasan, rasa takut, penolakan, dan rasa malu. Kecemasan yang dialami oleh pasien perlu dipertimbangkan. Kecemasan pasien dapat berpengaruh terhadap perawatan gigi dan mulut (McDonald dan Avery, 1978 cit. Hertanto, 2008). Kecemasan adalah hal yang penting karena merupakan komponen utama yang menyulitkan pasien di dalam praktik dokter gigi (Fransiskus, 2008).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Filewich, Jackson dan Shore (1981), pasien gigi yang merasa cemas saat mendapatkan perawatan gigi dan mulutnya memerlukan waktu yang lebih lama, yaitu lebih dari 20% dibandingkan dengan pasien yang tenang. Penelitian ini membuktikan bahwa rasa cemas tersebut dapat menghentikan minat pasien untuk datang merawat giginya.
Sementara itu dalam penelitian Curson dan Coplans (1970) membuktikan bahwa dari 100 orang sampel pasien di klinik gawat darurat, 68% mengatakan mereka terlalu cemas untuk pergi ke dokter gigi, dan hanya 32% yang tetap melakukan serta menjadwalkan kunjungan lanjutan untuk mendapatkan perawatan yang sempurna. Selanjutnya berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Todd dkk., pada tahun 1982 terhadap 6000 orang, 42% mengatakan bahwa mereka menghindari kunjungan rutin ke dokter gigi kecuali mengalami masalah pada giginya. Pada sampel tersebut, 58% mengatakan bahwa mereka takut pada dokter gigi.
Kecemasan dental yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Di seluruh dunia, prevalensi kecemasan dental tinggi mencapai 6-15% dari seluruh populasi, namun cukup bervariasi di berbagai bagian dunia dan pada populasi sampel yang berbeda. Etiologi dari fenomena ini pun bersifat multifaktorial, salah satunya usia (Hertanto, 2008).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hertanto (2008) dengan mengobservasi 200 pasien dental anak usia 6 dan 9 tahun di Sekolah Dasar Pelangi Kasih, Theresia, dan Negeri Pegangsaan 01 tahun ajaran 2008-2009 yang telah mendapatkan perawatan gigi dan mulut. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui prevalensi tingkat kecemasan dental tinggi pada anak usia 6 tahun yaitu sebesar 17% dan anak 9 tahun sebesar 24%. Anak usia 9 tahun memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibandingkan anak usia 6 tahun namun perbedaannya tidak signifikan.
Berdasarkan uraian pada pedoman kesehatan jiwa remaja (pegangan bagi dokter puskesmas) gangguan cemas atau kecemasan merupakan gangguan yang banyak terjadi pada anak dan remaja. Rasa cemas dipengaruhi oleh asumsi pribadi yang disebabkan adanya ketidaktahuan akan kesehatan gigi dan perawatan yang dilakukan. Selain itu rasa cemas dipengaruhi pula oleh faktor tumbuh kembang serta faktor pelayanan yang didapat saat pasien pertama kali berobat. Adanya rasa cemas ini akan mempengaruhi usaha program perawatan gigi yang optimal (Dwiyanti, 1997).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat suatu rumusan masalah sebagai berikut:  Apakah ada perbedaan tingkat kecemasan anak dan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi?
1.3 Tujuan Penelitian
           Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan anak dan  remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi.
1.4 Manfaat Penelitian
Memberikan gambaran perbedaan tingkat kecemasan antara anak dan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga seorang dokter gigi mampu melakukan penanganan atau perawatan dental yang efektif dan optimal terhadap pasien yang mengalami kecemasan dental. Selain itu, agar dapat bermanfaat bagi kemajuan ilmu kedokteran gigi dan menjadi landasan penelitian-penelitian lain yang terkait dengan kecemasan dental.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecemasan
A. Definisi Kecemasan
Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak di ketahui, internal, samar-samar, atau konfliktual (Kaplan dan Saddock, 1997). Kecemasan adalah suatu keadaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan yang disertai dengan tanda somatik yang mengambarkan perasaan keragu-raguan, keadaan tidak berdaya, ketegangan, kegelisahan, khawatir terhadap sesuatu yang mengancam.
Kecemasan dental adalah suatu ketakutan terhadap kunjungan ke dokter gigi untuk perawatan pencegahan ataupun terapi dan rasa cemas tidak beralasan terhadap dental. Ini dapat dilihat saat pasien menghindari kunjungan ke dokter gigi (Kent dan Blinkhorn, 1991). Kecemasan dental adalah suatu antisipasi yang berlebihan (apprehension) yang mengganggu jalannya perawatan dental dan membutuhkan perhatian khusus (Eli, 1992).
Perasaan cemas berbeda dengan rasa takut, takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya, sedangkan rasa cemas merupakan respon emosional terhadap penilaian suatu obyek (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan dianggap sebagai perasaan ketidaknyamanan secara umum, sedangkan ketakutan merupakan reaksi terhadap kejadian atau objek tertentu, misalnya: seorang pasien diserang kecemasan sewaktu mengunjungi dokter gigi dan merasa sangat takut terhadap tindakan pencabutan gigi. Rasa takut itu timbul karena penyebab yang jelas dan adanya fakta-fakta atau keadaan yang benar-benar membahayakan, sedangkan kecemasan timbul karena respon terhadap situasi yang kelihatannya tidak menakutkan, atau bisa juga dikatakan sebagai hasil dari rekaan, rekaan pikiran sendiri, dan juga suatu prasangka pribadi yang menyebabkan seseorang mengalami kecemasan. Namun seringkali kata cemas dan takut digunakan bergantian dan tidak dibedakan (Kent dan Blinkhorn, 1991).

Menurut beberapa psikolog, rasa cemas dan takut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena dalam situasi praktik dental yang sesungguhnya pasien mengalami rasa takut yang bersifat objektif dan subjektif atau yang dikenal dengan rasa takut dan rasa cemas (Kent dan Blinkhorn, 1991). Sumber lain juga menegaskan bahwa secara jelas dalam situasi dental, ketakutan dan kecemasan saling terkait mengingat pasien dihadapkan pada ancaman yang nyata dan imaginasi yang kemudian bereaksi dengan derajat kecemasan yang berbeda-beda (Eli, 1992). Contoh, seseorang dapat merasa cemas terhadap kunjungan ke dokter gigi dan secara spesifik merasa takut terhadap ekstraksi (Koch dkk., 1991).
Kecemasan terkadang disebut sebagai suatu ketakutan yang tidak  jelas, bersifat panjang/meluas (diffuse) dan tidak berkaitan terhadap ancaman spesifik tertentu. Kecemasan tampak dihasilkan oleh ancaman internal, perasaan yang tidak baik, dan berbeda dengan perasaan takut yang memiliki objek eksternal atau apa yang dilihat pasien sebagai suatu bahaya. Oleh sebab itu, perasaan cemas lebih sulit diatasi dibandingkan perasaan takut (Koch dkk., 1991).

B. Faktor-Faktor Etiologi Kecemasan Dental
Faktor etiologi dari kecemasan dental dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu faktor personal, faktor eksternal, dan faktor dental. Faktor personal merupakan faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan yang berasal dari orang itu sendiri yang terdiri dari usia, jenis kelamin, dan temperamen. Faktor eksternal merupakan hal-hal yang mempengaruhi kecemasan seseorang dan berasal dari lingkungan di sekitar orang tersebut, yang terdiri dari kecemasan dan ketakutan orang tua, situasi sosial dalam keluarga, latar belakang etnik keluarga, serta pola asuh dan peran anak di lingkungan sosial. Faktor dental merupakan hal-hal yang menyebabkan kecemasan yang disebabkan oleh tindakan perawatan yang menimbulkan rasa sakit dan perilaku dokter gigi beserta tim dental lainnya (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003).
1.     Faktor Personal
Pada faktor personal, temperamen merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan kecemasan. Temperamen adalah kualitas emosional personal bawaan atau bersifat herediter yang cenderung stabil. Pada diri setiap manusia terdapat kecenderungan temperamen yang berbeda. Beberapa kecenderungan dari temperamen diantaranya sifat malu dan emosi negatif yaitu memberontak. Dua temperamen tersebut telah diasosiasikan dengan rasa cemas dan takut terhadap perawatan dental (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003).
Faktor personal lain yang berpengaruh terhadap kecemasan dental adalah jenis kelamin. Pada umumnya anak perempuan memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Liddell dan Murray, 1989). Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, Trismiati (2006) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan.
Selain itu, usia juga sangat berpengaruh terhadap kecemasan dental seseorang. Rasa cemas terhadap berbagai jenis perawatan gigi banyak ditemukan pada anak usia remaja awal (Dwiyanti, 1997). Berdasarkan uraian pada pedoman kesehatan jiwa remaja (pegangan bagi dokter puskesmas) gangguan cemas atau kecemasan merupakan gangguan yang banyak terjadi pada anak dan remaja. Prevalensi yang diperoleh dari berbagai penelitian didapatkan angka 5%-50%. Menurut Kent (1991) dan Eli (1992) ditemukan bahwa kecemasan dental seseorang biasanya dimulai dari masa anak-anak. Sementara itu, penelitian lain mengungkapkan terdapat peningkatan atau perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan seiring dengan pertambahan usia.
Penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa usia 6-7 tahun ialah periode dimana ditemukan kecemasan dental tertinggi. Herbertt dan Innes menemukan anak dari umur 8-9 tahun paling banyak mengalami kecemasan dental dan paling tidak kooperatif selama perawatan dental. Anak di antara umur 4-14 melaporkan ketakutan spesifik dari dokter gigi, dengan peringkat tertinggi ialah takut dicekik diikuti dengan ketakutan terhadap injeksi dan pengeburan (Catherine, 2004).
Winner (1982) cit. Hertanto (2008) mengemukakan pendapat berbeda. Ia menyimpulkan bahwa ada indikasi bertambahnya kecemasan dental anak seiring meningkatnya usia, khususnya setelah usia 7-8 tahun. Kemudian naik secara signifikan pada usia 9-12 tahun. Ia menyatakan hal ini berkaitan dengan perkembangan fisiologis dan psikologis. Selain itu, anak yang lebih tua tentunya menerima resiko yang lebih besar untuk menerima perawatan restoratif yang lebih ekstensif dibandingkan anak yang lebih muda. Hal ini didukung oleh penelitian Ollendick, Matson, dan Helsel (1985) yang menemukan tingginya angka takut akan bahaya pada remaja dibandingkan anak yang lebih muda (Liddell dan Murray, 1989). Ini menunjukkan bahwa anak yang lebih tua merasakan dan memproses pengalaman dental yang berbeda dengan anak yang lebih muda (Liddell dkk., 1997).
2.     Faktor Eksternal
Situasi sosial anak sangatlah penting. Kelompok dengan status sosial ekonomi rendah memperlihatkan tingginya prevalensi kecemasan dental dan masalah perilaku (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003). Faktor eksternal lain yang menentukan, yaitu: pertama, sikap orang tua terhadap perawatan dental. Rasa cemas orang tua dapat mempengaruhi kecemasan dental pada anak-anak. Orang tua yang cemas sering mencampuri perawatan dental anaknya, contohnya menanyakan keperluan untuk injeksi atau perawatan restoratif. Pada saat itulah orang tua yang takut pada perawatan dental dapat menjadi model yang hidup dan kuat bagi kecemasan dental anaknya. Jadi, orang tua dengan kecemasan terhadap perawatan dental cenderung memiliki anak yang cemas pula (Chadwick, 2003).
Kedua, pengalaman medis dan dental pada anak. Anak yang tidak kooperatif atau cemas selama kunjungan dental terkait dengan pengalaman yang traumatik atau prosedur dental yang menyakitkan di masa lalu. Namun, tidak semua pasien yang mendapat nyeri atau rasa sakit selama perawatan dental menjadi cemas (Chadwick, 2003).
Ketiga, pengalaman dental dari teman dan saudara kandung. Banyak dari orang yang belum mendapatkan perawatan dental akan tetapi telah merasa cemas. Hal ini disebabkan anak mendapatkan dental fear melalui pembelajaran sosial dari saudara kandung, kerabat, kenalan, dan teman  (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003).
Keempat, jenis persiapan yang dilakukan di rumah sebelum pertemuan dental. Kemudian yang kelima ialah persepsi anak sendiri bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan giginya. Anak yang datang ke dokter gigi untuk pertama kalinya dan tahu bahwa mereka memiliki masalah dental, maka mereka akan cenderung bersikap buruk (Chadwick, 2003).
3.     Faktor Dental
Salah satu penyebab kecemasan dental dan masalah perilaku saat perawatan gigi ialah rasa sakit yang ditimbulkan dari perawatan. Rasa sakit didefinisikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang disebabkan karena kerusakan jaringan atau oleh ancaman kerusakan itu. Penting untuk mengetahui bahwa sensasi tidak harus disebabkan oleh kerusakan jaringan, tetapi juga oleh kondisi stimuli seperti suara bur dan jarum. Hal ini disebabkan karena secara secara normal rasa sakit menimbulkan reaksi fisiologi dan psikologi untuk melindungi tubuh dari kerusakan jaringan, sementara perilaku tidak kooperatif ialah reaksi yang wajar saat anak merasakan sakit atau ketidaknyamanan (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003).
Situasi praktik dental juga turut mempengaruhi kecemasan dental. Saat pasien datang untuk perjanjian dental, kecemasan telah berada dalam tingkat yang besar. Jika pasien dibiarkan duduk diruang tunggu untuk beberapa waktu, kecemasannya meningkat. Saat pasien dibawa ke ruang operasi, ia dihadapkan pada stimuli sensori yang mengakibatkan perasaan tidak nyaman. Stimuli ini antara lain, lampu yang terang, pemandangan instrument-instrument dental dan baju putih dokter gigi, bau medikasi yang tidak menyenangkan, dan bunyi-bunyi instrument termasuk suara bur. Ditambah komunikasi yang buruk dengan dokter gigi akan menambah kecemasan pada pasien (Sharma, 1976 cit. Hertanto, 2008).
C. Manifestasi Kecemasan
Menurut Trismiati (2006) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini: 1) Manifestasi kognitif, yang terwujud dalam pikiran seseorang, seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi; 2)  Perilaku motorik, kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar; 3) Perubahan somatik, muncul dalam keadaaan mulut kering, tangan dan kaki dingin, diare, sering kencing, ketegangan otot, peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung, respirasi, ketegangan otot dan tekanan darah; 4) Afektif, diwujudkan dalam perasaan gelisah, dan perasaan tegang yang berlebihan.
Sementara itu Klingberg dan Raadal (2003) juga menyebutkan bahwa keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut: (1), Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung; (2), Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut; (3), Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang; (4), Gangguan pola tidur, mimpi yang menegangkan; (5), Mengganggu konsentrasi dan daya ingat; (6), Keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran mendenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, sakit kepala dan sebagainya.
D. Pengaruh Kecemasan Dalam Perawatan Dental
            Kecemasan dental mempengaruhi pasien untuk membatalkan atau menunda dental appointment serta perawatan dental. Hal ini terlihat dari suatu metode yang digunakan untuk menghitung secara tabulasi data mengenai dental appointment yang ditunda atau dibatalkan oleh pasien tersebut. Hal ini menghasilkan konsekuensi berupa kerusakan gigi secara biologis maupun sikap penolakan secara psikologis. Sikap tersebut pada akhirnya memperparah rasa sakit dari pasien tersebut yang kemudian menimbulkan suatu stress dimana pada akhirnya dapat memperparah sikap penolakan pasien terhadap perawatan gigi, demikian seterusnya membentuk suatu siklus. Siklus lingkaran ini dikuatkan oleh perasaan malu pasien akan kondisi oralnya dan karena ketidakmampuannya untuk mengatasi situasi (Eli, 1992).
            Seiring berjalannya waktu, pengalaman perawatan dental masa lalu dapat memberikan pengaruh yang buruk dalam perawatan. Jika pasien ditanyakan mengenai perasaannya pada masa lalu, seringkali pasien tersebut menyatakan bahwa perasaan cemasnya pada saat recall dapat jauh lebih besar dibandingkan perasaan pada saat duduk di dental unit. Hal yang sama juga terjadi pada pasien yang mengeluhkan rasa sakit 3 bulan setelah perawatan dibandingkan rasa sakit setelah perawatan pertama. Jadi, dapat disimpulkan kecemasan dental mempunyai efek bersifat mengganggu kesehatan rongga mulut pasien tersebut (Eli, 1992).
E. Skala Kecemasan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS.  Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 symptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (nol present) sampai dengan 4 (severe) (Nursalam, 2003).
Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic.  Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliabel (Nursalam, 2003).
Dalam HARS yang dikutip Nursalam (2003) penilaian kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi: 1) Perasaan cemas berupa firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung; 2)  Ketegangan, seperti: merasa tegang, gelisah, mudah terganggu dan lesu; 3)  Ketakutan, seperti: takut terhadap gelap, takut terhadap orang asing, dan takut bila tinggal sendiri; 4)  Gangguan tidur, seperti: sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk; 5)  Gangguan kecerdasan, seperti: penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi; 6) Perasaan depresi, seperti: hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari; 7) Gejala somatik, seperti: nyeri pada otot, gertakan gigi, dan suara tidak stabil; 8)  Gejala sensorik, seperti: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah; 9) Gejala kardiovaskuler, seperti: takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap; 10) Gejala pemapasan, seperti: rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek; 11) Gejala gastrointestinal, seperti: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut; 12) Gejala urogenital, seperti: sering kencing, tidak dapat menahan kencing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi; 13) Gejala vegetatif, seperti: mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala; 14) Perilaku sewaktu wawancara, seperti: gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat, napas pendek dan cepat.
Adapun cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai yaitu dengan kategori: a) 0 = tidak ada gejala sama sekali; b) 1 = satu dari gejala yang ada; c) 2 = sedang/separuh dari gejala yang ada; d) 3 = berat/lebih dari separuh gejala yang ada; e) 4 = sangat berat semua gejala ada. Sementara itu, untuk penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlahkan skor dari item 1-14 dengan hasil: a)  Skor < 7 = tidak ada kecemasan; b)  Skor 7–14 = kecemasan ringan; c) Skor 15–27 = kecemasan sedang; d) Skor > 27 = kecemasan berat (Nursalam, 2003).
2.2 Anak-Anak
            Usia secara jelas mendefinisikan karakteristik yang memisahkan anak dari orang dewasa. Pada karya ilmiah ini penulis hanya membahas anak pada masa sekolah dasar . Masa ini berlangsung diantara umur 6 – 12 tahun, disebut juga masa latency, merupakan masa dimana seorang anak mempunyai kepribadian mudah menyesuaikan diri dengan keadaan atau ekspektasi dari orang dewasa (Freud cit. Hertanto, 2008). Menurut Stone dan Chruch cit. Dwiyanti (1997), masa ini adalah masa kehilangan gigi, masa perubahan fisik yang cepat, masa meraih identitas yang tidak bergantung pada orang lain, masa untuk mengalami kelakuan dan berfikir realitik. Untuk dokter gigi dapat memanfaatkan periode ini karena anak menganut tingkah laku melibatkan diri, anak dapat menerima alasan-alasan untuk mengurangi rasa cemasnya.
Menurut John Locke cit. Gunarsa (1986), anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.  Augustinus cit. Suryabrata (2000), mengatakan bahwa anak  tidaklah sama dengan orang dewasa, anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterimanya dari aturan-aturan yang bersifat memaksa.
Sobur cit. Suryabrata (2000), mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Haditono cit. Damayanti (1992), berpendapat bahwa anak merupakan mahkluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembangan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Menurut Hurlock (1997) tugas-tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah: a) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum; b) Membangun sikap sehat mengenai diri sendiri sebagai mahkluk yang sedang tumbuh; c) Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya; d) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat; e) Mengembangkan ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung;  f) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari; g) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tingkatan nilai; h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga; i) Mencapai kebebasan pribadi.
2.3 Remaja
Remaja dalam bahasa Latin adalah adolescence, yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Istilah adolescence sesungguhnya mempunyai arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget cit. Hurlock (1991) yang mangatakan bahwa secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Masa remaja adalah waktu meningkatnya perbedaan di antara anak muda mayoritas, yang diarahkan untuk mengisi masa dewasa dan menjadikannya produktif, dan minoritas yang akan berhadapan dengan masalah besar. Masa remaja berlangsung antara usia 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan usia 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12 atau 13 tahun sampai dengan 17 atau 18 tahun adalah masa remaja awal, kemudian usia  17 atau 18  sampai  dengan  21 atau 22 tahun adalah masa remaja akhir (Monks, 1992).
Menurut Papalia dan Olds (2004) remaja sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke dewasa, diawali dengan masa puber yaitu proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi dan psikososial yang berkaitan satu sama lain. Kemudian menurut Monks (1992) masa remaja awal atau masa pubertas berlangsung dari usia 12-15 tahun. Pada usia remaja awal banyak terjadi perubahan perkembangan sehingga masa ini sering disebut masa yang bergejolak.  
Perubahan perkembangan meliputi perkembangan fisik, psikis, dan sosial. Perkembangan fisik ditandai dengan adanya perubahan pertumbuhan yang cepat pada tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh (Biehler dan Snowman, 1989).  Hal ini disebabkan adanya koordinasi yang baik diantara kerja kelenjar-kelenjar, dan juga dipengaruhi hormon-hormon kelamin yaitu testosteron pada laki-laki dan estrogen pada anak perempuan (Monks, 1992).
Perkembangan psikis meliputi perkembangan moral, emosi, dan kognitif. Perkembangan emosi dan moral ditandai dengan adanya perasaan bingung, perasaan depresi, keinginan yang cepat berubah, rasa percaya diri yang rendah, adanya perasaan takut dan cemas, serta pencarian identitas diri (Biehler dan Snowman, 1989). Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Papalia dan Olds, 2004). Hal ini juga merupakan salah satu sebab remaja lebih dekat dengan teman sebaya daripada dengan orang dewasa (Monks, 1992).
Selain perkembangan emosi dan moral, diikuti juga dengan perkembangan kognitif yang merupakan masa peralihan antara konkrit operasional dengan pemikiran formal, masa peralihan perubahan emosi yang berkeinginan menentang dengan emosi kooperatif, dan pola berpikir yang lebih abstrak, lebih terbuka, dan lebih berpengetahuan (Biehler dan Snowman, 1989).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Pada masa remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar (Papalia dan Olds, 2004).
BAB III
HIPOTESIS
Kecemasan dental yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Di seluruh dunia, prevalensi kecemasan dental tinggi mencapai 6-15% dari seluruh populasi, namun cukup bervariasi di berbagai bagian dunia dan pada populasi sampel yang berbeda. Etiologi dari fenomena ini pun bersifat multifaktorial, salah satunya usia (Hertanto, 2008).
Gangguan cemas atau kecemasan merupakan gangguan yang banyak terjadi pada anak dan remaja. Prevalensi yang diperoleh dari berbagai penelitian didapatkan angka 5%-50%. Menurut Kent (1991) dan Eli (1992) ditemukan kecemasan dental seseorang biasanya dimulai dari masa anak-anak. Sementara itu, penelitian lain mengungkapkan terdapat peningkatan atau perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan seiring dengan pertambahan usia.
Rasa cemas terhadap berbagai jenis perawatan gigi banyak ditemukan pada anak usia remaja awal. Rasa cemas dipengaruhi oleh asumsi pribadi yang disebabkan adanya ketidaktahuan akan kesehatan gigi dan perawatan yang dilakukan. Selain itu rasa cemas dipengaruhi pula oleh faktor tumbuh kembang serta faktor pelayanan yang didapat saat pertama kali berobat (Dwiyanti, 1997).

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis yaitu ada perbedaan tingkat kecemasan antara anak dan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi.

Mohon Maaf untuk BAB IV dan BAB V tidak bisa di posting,,,

BAB VI
PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan anak dengan tingkat kecemasan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi. Dari hasil penelitian tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin laki-laki pada kelompok anak dan remaja, juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan anak laki-laki dan remaja laki-laki terhadap kunjungan ke dokter gigi. Hal yang sama juga terjadi pada jenis kelamin perempuan, dimana dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan anak perempuan dan remaja perempuan terhadap kunjungan ke dokter gigi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian dari Herbertt dan Innes (2004) yang menemukan dimana anak dari umur 8-9 tahun paling banyak mengalami kecemasan dental dan paling tidak kooperatif selama perawatan dental (Hertanto, 2008). Hal ini sesuai juga dengan hasil survei dari Locker dan Lindell pada tahun 1997 terhadap 1420 orang, sebanyak 16,4% mengalami kecemasan dental dan dari hasil tersebut 50,9% muncul pada masa anak-anak. 
Sementara itu, hasil penelitian tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan pada kelompok anak dan remaja menunjukkan bahwa secara statistik dengan uji independent t-test tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan laki-laki dan perempuan pada kelompok anak dan remaja. Secara statistik perbedaan yang terjadi sangat kecil dan tidak signifikan. Ini ditunjukkan dari hasil uji independent t-test yang mendapatkan nilai mean perempuan 10,078 sedikit lebih tinggi daripada nilai mean laki-laki 9,286.
Namun dari hasil analisis data dengan menggunakan analisis data deskriptif, menunjukkan bahwa secara akumulatif pada Tabel 5.6 jumlah sampel perempuan yang mengalami kecemasan rendah, kecemasan sedang, dan kecemasan berat sebanyak 72 orang jauh lebih tinggi dari sampel laki-laki yaitu sebanyak 49 orang. Dari hasil perhitungan akumulatif tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat kecemasan perempuan lebih tinggi daripada tingkat kecemasan laki-laki. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Liddell dan Murray (1989) yang menyatakan bahwa pada umumnya anak perempuan memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Trismiati (2006) yang mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, dimana laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Liddell, Rabinowitz, dan Peterson (1997), juga menyatakan bahwa perempuan lebih mudah terlihat cemas dibandingkan laki-laki karena kurangnya kemampuan perempuan untuk menutupi perasaannya, sedangkan laki-laki mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk menutupi perasaan cemas dengan merubah kecemasan atau ketakutannya menjadi suatu kemarahan. Menurut Settineri, Udoye, dan Oginni (2005), pada penelitian di Afrika dan Amerika Utara ditemukan bahwa secara umum perempuan cenderung lebih mudah mengalami perasaan cemas dibandingkan laki-laki.
Kecemasan dental yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal (Hertanto, 2008). Umumnya anak akan merasa cemas ketika melakukan kunjungan ke dokter gigi. Kecemasan dental adalah hal yang penting karena merupakan komponen utama yang menyulitkan pasien di dalam praktik dokter gigi (Fransiskus, 2008).
Kecemasan terhadap perawatan gigi dan mulut ini merupakan suatu keadaan multifaktorial yaitu dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya pengalaman yang menyakitkan atau negatif selama kunjungan ke praktek dokter gigi sebelumnya, kesan negatif mengenai perawatan gigi yang didapatkan dari pengalaman keluarga atau teman, gambaran dokter gigi yang menakutkan dari berbagai media cetak dan elektronik, serta rasa sakit selama perawatan (Soeparmin dkk., 2004).
Menurut Koch dkk. (1991) cit. Klingberg dan Raadal (2003) faktor etiologi dari kecemasan dental dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu faktor personal, faktor eksternal, dan faktor dental. Faktor personal merupakan faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan yang berasal dari orang itu sendiri yang terdiri dari usia, jenis kelamin, dan temperamen. Faktor eksternal merupakan hal-hal yang mempengaruhi kecemasan seseorang dan berasal dari lingkungan di sekitar orang tersebut, yang terdiri dari kecemasan dan ketakutan orang tua, situasi sosial dalam keluarga, latar belakang etnik keluarga, serta pola asuh dan peran anak di lingkungan sosial. Faktor dental merupakan hal-hal yang menyebabkan kecemasan yang disebabkan oleh tindakan perawatan yang menimbulkan rasa sakit dan perilaku dokter gigi beserta tim dental lainnya.
Pada faktor personal, temperamen merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan kecemasan. Pada diri setiap manusia terdapat kecenderungan temperamen yang berbeda. Beberapa kecenderungan dari temperamen diantaranya sifat malu dan emosi negatif yaitu memberontak. Dua temperamen tersebut telah diasosiasikan atau dihubungkan dengan rasa cemas dan takut terhadap perawatan dental (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003). Faktor personal lain yang berpengaruh terhadap kecemasan dental adalah jenis kelamin. Pada umumnya anak perempuan memiliki tingkat kecemasan dental yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki (Liddell dan Murray, 1989). Selain itu, usia juga sangat berpengaruh terhadap kecemasan dental seseorang. Menurut Eli (1992), ditemukan bahwa kecemasan dental seseorang pada umumnya dimulai dari masa anak-anak. Penelitian lebih lanjut mengungkap bahwa usia 6-7 tahun ialah periode dimana ditemukan kecemasan dental tertinggi. Herbertt dan Innes menemukan anak dari umur 8-9 tahun paling banyak mengalami kecemasan dental dan paling tidak kooperatif selama perawatan dental (Catherine, 2004).
Pada faktor eksternal, situasi sosial anak sangatlah penting. Menurut Koch dkk. (1991) cit. Klingberg dan Raadal (2003) kelompok dengan status sosial ekonomi rendah memperlihatkan tingginya prevalensi kecemasan dental dan masalah perilaku. Faktor eksternal lain yang menentukan, diantaranya sikap orang tua terhadap perawatan dental. Rasa cemas dental orang tua dapat mempengaruhi kecemasan dental pada anak. Biasanya orang tua dengan kecemasan terhadap perawatan dental cenderung memiliki anak yang cemas pula (Chadwick, 2003).
Kemudian pengalaman medis dan dental pada anak juga berpengaruh. Anak yang tidak kooperatif atau cemas selama kunjungan dental terkait dengan pengalaman yang traumatik atau prosedur dental yang menyakitkan di masa lalu. Namun, tidak semua pasien yang mendapat nyeri atau rasa sakit selama perawatan dental menjadi cemas (Chadwick, 2003). Selain itu,  pengalaman dental dari teman dan saudara kandung juga sangat mempengaruhi kecemasan. Banyak dari orang yang belum mendapatkan perawatan dental tapi merasa cemas. Hal ini disebabkan anak mendapatkan dental fear melalui pembelajaran sosial dari saudara kandung, kenalan, dan teman (Koch dalam Klingberg dan Raadal, 2003).
      Pada faktor dental, yang menjadi penyebab kecemasan dental dan masalah perilaku saat perawatan gigi ialah rasa sakit yang ditimbulkan dari perawatan (Koch dkk., 1991 cit. Klingberg dan Raadal, 2003). Tiga penelitian yang dilakukan oleh Wright dan Alpern (1971), Wright, Alpern dan Leake (1973), Bailey, Tailor, dan Talbot (1973) menunjukkan bahwa rasa sakit yang timbul dari prosedur medis memiliki pengaruh buruk bagi perilaku anak dalam lingkungan dental. Situasi praktik dental juga turut mempengaruhi kecemasan dental. Saat pasien datang untuk perjanjian dental kecemasan dan stress telah berada dalam tingkat yang besar. Ditambah komunikasi yang buruk dengan dokter gigi akan menambah kecemasan pada pasien (Fransiskus, 2008).
Namun ada suatu hal yang penting pada anak-anak usia sekolah yaitu adanya rasa ingin tahu yang besar sekali, dan mereka lebih mudah diajak berkomunikasi, sehingga mereka dapat menerangkan keluhan-keluhannya, sedangkan dokter gigi dapat menjelaskan mengapa suatu tindakan itu perlu dikerjakan. Anak perlu banyak dipuji, dan diberi penjelasan tentang tujuan perawatan (Soeparmin dkk., 2011). Hal ini bermanfaat bagi dokter gigi untuk membina hubungan yang baik dengan pasien terutama pasien anak-anak melalui komunikasi terapeutik sehingga tercipta suasana yang menyenangkan bagi anak. Komunikasi terapeutik merupakan proses untuk menciptakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien untuk mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, diharapkan melalui komunikasi terapeutik dapat menghilangkan rasa takut atau cemas pada anak (Nugraha dkk., 2011).
Untuk pasien yang tetap menunjukkan perilaku negatif walaupun pendekatan verbal telah dilakukan dapat diberikan premedikasi. Premedikasi diberikan dengan tujuan menenangkan emosional pasien tetapi tetap membuatnya dalam keadaan terjaga atau sadar. Pemberian premedikasi yang efektif adalah sesaat sebelum tidur malam hari dan 45 menit sebelum kunjungan dengan dosis yang sama. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah dosis dan sediaan obat premedikasi tersebut (White dan Kisby, 1981 cit. Hertanto, 2008).
BAB VII 
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan anak berbeda secara bermakna dengan tingkat kecemasan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi, dimana tingkat kecemasan anak lebih tinggi dibandingkan remaja terhadap kunjungan ke dokter gigi.
7.2 Saran
a.      Seorang dokter gigi agar lebih memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien terhadap kunjungan ke dokter gigi untuk mendapatkan usaha program kesehatan gigi yang optimal terutama bagi pasien yang mengalami kecemasan dental.
b.     Dokter gigi penting mengetahui tingkat kecemasan pada anak usia sekolah dasar sehingga mampu melakukan penanganan atau perawatan dental yang efektif.
c.      Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan menambah jumlah sampel dan jumlah antara sampel laki-laki dengan sampel perempuan seimbang untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.


DAFTAR PUSTAKA

Biehler, R. F., Snowman, J., 1989, Psychology Applied to Teaching. 7th ed. Houghton Miffin Co. Boston, Toronto, Dallas, Geneva Lilionis Palo Alto Princeton New Jersey.

Catherine, D., 2004, Applying the social learning theory to children with dental anxiety. The Journal of Contemporary Dental Practice; Volume 5 no.1 p.1-8

Chadwick, B. L., H. M., 2003, in Child Taming : How to manage children in dental practice. Quintessence Publising: London p. 9-16

Curson, I., and Coplans, M. P., 1970, The need for sedation in conservative dentistry, Br. Dent. J., 125: 18-22

Damayanti, M., 1992, Tumbuh Kembang Anak dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto. 
               
            Dwiyanti, S., 1997, Rasa Takut dan Cemas terhadap Berbagai Jenis Perawatan Gigi pada Anak Usia Remaja Awal. [pdf] Available : http://www.lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=78441&lokasi=lokal  [6 Oktober 2011]
            
            Eli, I., 1992, Oral Psychophysiology: Stress, Pain and Behavior In Dental     Care. Boca Raton-Florida: CRC Press, hlm. 61-63, 66-67.

F.J. Monks, dkk., 2002, Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Filewich, R. J., Jackson, E., dan Shore, H., 1981, Effects of Dental Fear on Efficiency of Routine Procedures. IADR: Chicago.

Fransiskus, Ivan, 2008, Perbedaan Tingkat Kecemasan Dental Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Terhadap Lingkungan Perawatan Dental Pada Anak Usia 7 dan 10 Tahun. [pdf] Available :

Gunarsa, 1981, Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: Gunung Mulya

Hertanto, Mario, 2008, Perbedaan tingkat kecemasan dental berdasarkan usia dan jenis kelamin terhadap lingkungan perawatan dental pada anak usia 6 dan 9 tahun.[pdf] Available : http://www.lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=125717&lokasi=lokal  [1 Desember 2011]

Hurlock, E. B., 1991, Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. PT Gelora Aksara Pratama.

Hurlock, E. B., 1997, Psikologi Perkembangan Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga

Kaplan and Saddock, 1997, Modern Synopsis of Comprehensive Text Book of Psychiatry, 4 ed . USA: Wiliams and Wilkins Comp. Baltimore

Kent, G. G., dan Blinkhorn, A. S., 1991, The Nature and Causes of Anxiety. The Psychology of Dental Care. 2nd ed. London: Butterworth-Heinemann Ltd. dalam Kent, G. G., dan Blinkhorn, A. S., 2005, Pengelolaan Tingkah Laku Pasien Pada Praktik Dokter Gigi, Edisi ke-2. Jakarta : EGC

Klingberg, G., Raadal, M., 2003, Behavior management problems in children and adolescent. Denmark: Blackwell Munksgaard

Koch, G., Modee, T., Pioulsen, S., Ramussen, P., 1991, Pedodontics a Clinical Approach, 1st ed. Copenhagen: Munksgaard

Liddell, A., Murray, P., 1989, Age and sex differences in children’s reports of dental anxiety and self-efficacy relating to dental visits. Journal Behavior Science; 21(3) : 270-9.

Liddell, A., Rabinowitz, F. M., Peterson, C., 1997, Relationship between age changes in children’s dental anxiety and perception of dental experiences. Journal Cognitive Therapy and Research, vol. 21, no. 6, hlm. 19-31.

Locker, D., Liddell, A., Dempster, L. D. S., 1999, Age of onset of dental anxiety. Journal of Dental Research, 790-6.

McDonald, R. E., dan Avery, D. R., 1978, Dentistry for the Child and Adolescent, Edisi ke-3. The C. V. Mosby Company

Monks, F. J., Knoers, AMP, Haditono, SR., 1992, Psikologi Perkembangan. Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Universitas Gadjah Mada Press.

Nugraha, P. Y., Suarjaya, K., dan Adnyani, A. S., 2011, Aplikasi komunikasi terapeutik dalam mengatasi rasa takut anak terhadap perawatan gigi, JKGM, vol. 8, no. 1, hlm. 24-29.

Nursalam, 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, Dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Available :  http://morningcamp.com/?tag=kecemasan [6 Juli 2011]

Ollendick, T. H., J. L., Matson, and Helsel, W. S., 1985, Fears in Children and Adolescent: Normative Data. Behaviour Research and Therapy.

Papalia, E. D., Olds, S. W., Feldman, R. D., 2004, Physical Development in Early Childhood. International Edition-Human Development. Edisi ke-9.  Boston: Mc Graw Hill, hlm. 293

Sastroasmoro, S., 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI

Settineri, S., Tati, F., and G. Fanara, 2005, Gender differences in dental anxiety: is the chair position important?. The Journal of Contemporary Dental Practice, 6 (1).

Soeparmin, S., Suarjaya, K., dan Antara, M. W., 2004, Rasa takut anak dalam perawatan gigi, JKGM, vol. 2, no. 1, hlm. 30

Soeparmin, S., Suarjaya, K., dan Sukmadewi, P. M., 2011, Midazolam sebagai sedasi secara oral dalam mengurangi kecemasan pada perawatan gigi anak.
JKGM, vol. 8, no. 1, hlm. 30-35.

Stuart dan Sundeen, 1998, Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Suryabrata, Sumadi, 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta:     ANDI.

Todd, J. E. Walker, A., Dodd, P., 1982, Adult Dental Health. HMSO: London.

Trismiati, 2006, Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pria dan Wanita Akseptor
Kontrasepsi Mantap di RSUP dr. Sarjito Yogyakarta. Palembang: Fakultas
Psikologi Universitas Bina Dharma.

Udoye, C. I., Oginni, A. O., 2005, Dental anxiety among patients undorgoin various dental treatment in Nigerian teaching hospital.  The Journal of Contemporary Dental Practice, 8 (2): p. 3

White, G. E., Kisby, L., 1981, Behaviour Management in Pedodontics, in Clinical Oral Pediatrics, White, G. E. (ed), Quintessence Publishing Co. Inc., Tokyo.

Winner, G. A., 1982, A Review and Analysis of Children’s Fearful Behavior in Dental Setting. Child Development.

0 Komentar:

Posting Komentar